5 Pesepak Bola Legendaris Klub Persija Jakarta

Persija Jakarta menjadi tim tersukses dalam sejarah sepak bola Indonesia. Bukti tersebut tersaji dalam torehan 10 gelar juara kompetisi elite PSSI, baik di era Perserikatan hingga kini Liga Indonesia.

Semenjak berdiri pada 28 November 1928, klub yang awalnya bernama VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra) menjadi bertemunya pemain-pemain berbakat dari penjuru Jakarta dan Indonesia.

Di era VIJ bond yang jadi salah satu penggagas berdirinya PSSI itu pernah diperkuat oleh Soemo dan Abidin. Kedua nama itu menjadi pemain yang mahsyur pada eranya. Lanjut di era 1950-an, Persija banyak diisi pemain dengan teknik tinggi buah hasil bergabungnya klub-klub anggota VBO ke Persija

Lain lagi dengan era 1960-an, dimana Tim Macan Kemayoran memetik gelar juara dengan tenaga-tenaga anak muda. Kala itu, kompetisi internal Persija bisa dibilang menjadi kompetisi amatir terbaik dengan banyak menghasilkan pemain-pemain legendaris. Soetjipto Soentoro salah satunya.

Era emas, alias 1970-an, nama Persija seakan sudah menjadi jaminan mutu. Bukan hanya karena sebagai salah satu klub elite yang merajai kompetisi elite Perserikatan Tanah Air, tetapi juga sebagai pemasok pemain Timnas Indonesia terbanyak pada era itu.

Sebagai tim besar yang lahir di Ibu Kota, Persija sudah pasti menjadi barometer pemain-pemain sepak bola yang ada di Indonesia. Di usianya yang sudah mencapai 87 tahun, tentu saja Persija mempunyai pemain legendaris sejak tempo dulu hingga sekarang.

Bola.com menampilkan lima pemain yang dinilai punya pengaruh besar dalam perjalanan sejarah kejayaan Persija Jakarta:

Tan Liong Houw

Tan Liong Houw yang berdarah Tionghoa dengan nama pribumi, Latief Harris Tanoto, merupakan pemain spesial dalam perjalanan panjang Persija. Tan Liong Houw yang besar di Jakarta merupakan salah satu legenda klub yang dicintai pendukung Tim Macan Kemayoran pada masanya.

Tan Liong Houw muda mengembangkan bakat sepak bolanya melalui klub Chung Hua atau yang sekarang dikenal dengan nama PS Tunas Jaya. Bakat sepak bolanya lahir dari ayahnya yang juga pembesar klub Chung Hua, yakni Tan Chin Hoat.

Akan tetapi, berbeda dengan ayahnya yang piawai sebagai pemain bek kiri, pesepak bola kelahiran lahir di Surabaya, 26 Juli 1930 tersebut, memilih untuk menjadi seorang gelandang. Kemampuannya sebagai pengontrol pertandingan tidak usah diragukan lagi, karena dalam usia yang cukup muda, Tan Liong Houw sanggup menjadi pemimpin tim Persija dan juga Indonesia.

Yang unik, Tan Liong Houw punya ciri khas yang gampang dikenali. Hal itu tampaknya menurun dari sang ayah. Jika Chin Hoat gemar mengalungkan handuk di pundaknya saat bermain, maka Tan Liong Houw pun selalu mengikatkan handuk di tangan kirinya. Dengan begitu, penonton pun mengenali Tan Liong Houw di lapangan dari penampilannya.

Kisah percintaan Tan Liong Houw dengan Persija bermula saat Chung Hua memutuskan keluar dari perkumpulan Voetballbond Batavia en Omstraken (VBO) dan memilih masuk ke Persija pada tahun 1951.

Bersama dengan UMS dan juga BBSA, Chung Hua menjadi pelopor klub anggota VBO yang menyeberang ke Persija. Hal itu tentubukan keputusan yang mudah, mengingat VBO dan VIJ (nama sebelum Persija) kerap beradu gengsi dalam urusan kompetisi di Tanah Betawi.

Namun, masuknya Chung Hua, UMS dan BBSA menjadi keuntungan tersendiri bagi Persija. Pasokan pemain berkualitas dari kompetisi VBO menjadi senjata utama Persija di kompetisi PSSI setelah era awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Tan Liong Houw muda pun serta merta masuk ke dalam tim Persija melalui klub Chung Hua. Bersama Wim Pie, Tan Liong Houw menjadi wakil klub etnis Tionghoa yang bermarkas di Taman Sari itu di Persija.

Bermodal gaya permainannya yang berani, mampu menjelajah ke setiap area dan bernafas layaknya kuda, Tan Liong Houw pun didapuk menjadi pemimpin Persija di lapangan. Kehadiran Tan Liong Houw sebagai kapten menjadi simbol kemenangan Chung Hua atas rival abadinya, UMS, yang juga banyak memasok pemain untuk Persija.

Dari gaya bermainnya itu, pendukung Persija era itu pun jatuh cinta dengan Tan Liong Houw. Pendukung Persija pun memberikan julukan Macan Betawi atau Macan Jakarta. Julukan yang sangat spesial, karena secara etnis Tan Liong Houw bukanlah orang Betawi.

Tan Liong Houw menyumbangkan gelar juara Perserikatan untuk Persija pada tahun 1954. Saat itu Persija bersua PSMS Medan. Dalam final  yang tergolong keras itu, Tan Liong Houw bermain apik dengan menjadi pengatur permainan Persija.

Selepas lesakan gol dari Van der Berg dan Kwee Hong Sing, Tim Ayam Kinantan walk out menolak melanjutkan pertandingan karena merasa laga berjalan sangat keras dan wasit tidak tegas.

Terlepas dari kontroversi yang mencuat pada partai puncak, Tan Liong Houw berhasil membawa Persija berpesta di Stadion Ikada setelah pada tahun-tahun sebelumnya gagal meraih gelar juara.

Kiprah Tan Liong Houw di Timnas Indonesia juga tak kalah mentereng. Bersama Tim Garuda, Tan Liong Houw pernah merasakan menahan tim kuat dunia, Uni Soviet, 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956.

Bahkan, dirinya mempersembahkan gelar juara untuk Indonesia dalam pergelaran Merdeka Games tahun 1961 di Malaysia.

Yang menarik, Tan Liong Houw menjadi pemain paling senior di Tim Merah-Putih. Ia didaulat sebagai kapten tim yang saat itu banyak diisi pemain dari Persib Bandung, seperti: Wowo, Rukma, atau Fattah Hidayat.

Sayangnya, Tan Liong Houw gagal berprestasi di pengujung kariernya bersama timnas. Ia tidak sukses mendapatkan medali di ajang terakhirnya bersama Indonesia pada Asian Games 1962.

Sinyo Aliandoe

Nama Sinyo Aliandoe lebih dikenal publik sepak bola nasional sebagai pelatih sukses yang hampir meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia Meksiko 1986. Saat masih jadi pemain, pria kelahiran Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1940 tersebut amat mahsyur di Persija Jakarta.

Memulai bermain di level senior bersama PS Maesa, yang juga klub anggota Persija, Sinyo muda yang amat berbakat langsung bersinar di pentas kompetisi internal Jakarta.

Sinyo memikat hati pelatih kepala Persija yang saat itu dijabat oleh drg. Endang Witarsa. Selain Sinyo, ada pemain muda lainnya Soetijipto Soentoro yang tampil memesona di kompetisi internal Macan Kemayoran.

Endang Witarsa, yang akrab dipanggil dengan sebutan Pak Dokter, melihat ada hal spesial dari diri Sinyo, yang berposisi sebagai gelandang tengah. Tak hanya memiliki skill bagus, Sinyo punya etos pekerja keras di lapangan. Gaya ini amat disukai sang mentor.

Sinyo yang saat direkrut Persija statusnya sudah pindah ke klub Indonesia Muda, menjadi salah satu pemain andalan Macan Kemayoran di kancah Perserikatan.

Sinyo jadi andalan di formasi 4-2-4 racikan Pak Dokter. Permainannya licin bagai belut plus fisiknya amat prima. Ditopang oleh pemain berkualitas lainnya seperti Tahir Yusuf dan Soetjipto Soentoro, jadilah Persija tim ofensif yang menakutkan kubu lawan.

Hasilnya, di usia 24 tahun, Sinyo sudah merasakan manisnya gelar juara Perserikatan. Gelar yang istimewa bagi Persija, karena mereka juara tanpa terkalahkan dengan materi pemain-pemain muda berkat tangan emas Endang Witarsa.

Sayangnya karier sebagai pemain Sinyo tak berlangsung lama. Di usia yang masih tergolong muda, Sinyo harus pensiun dini dari lapangan sepak bola. Cedera parah patah kaki membuat Sinyo menghentikan aktivitasnya sebagai pemain pada tahun 1969.

Tetapi, ternyata Tuhan punya rencana lain bagi Sinyo. Cukup sukses sebagai pemain di Persija, pria yang lahir di Flores pada 1 Juli 1940 itu mulai mendalami ilmu kepelatihan di Manchester, Inggris.

Kepergian Sinyo belajar ilmu pelatih di Inggris tak lepas dari campur tangan pemilik klub Jayakarta dan manajer tim Persija, F.H. Hutasoit. Kariernya sebagai pelatih di Persija Jakarta dimulai pada 1973.

Pada musim perdananya Sinyo membawa Persija juara kompetisi Perserikatan. Gelar keenam sepanjang sejarah klub.

Berbekal materi pemain yang mumpuni, ditambah karakter Sinyo yang penuh perhitungan, menjadikan penggawa Macan Kemayoran menjelma jadi tim yang amat superior. Gelar juara Perserikatan mengakhiri dahaga panjang prestasi selama 10 tahun tanpa gelar.

Hebatnya, dua tahun berselang Sinyo kembali mengantar Persija jadi tim terbaik di Tanah Air. Walau ada catatan. Gelar juara di tahun itu bukan hanya milik Persija, tetapi juga PSMS Medan.

Jakarta dan Medan menjadi juara bersama setelah keduanya menolak meneruskan pertandingan karena kecewa dengan kepemimpinan wasit asal Malang, Mahdi Thalib. Gara-gara pengadil yang tak tegas, keributan besar antar pemain sempat pecah di tengah lapangan Stadion Utama Senayan (nama lama Stadion utama Gelora Bung Karno).

Torehan dua gelar di Persija membuat karier Sinyo kian menanjak. Ia mendapat tantangan menukangi Timnas Indonesia. Karakter tegas dan disiplin ala Sinyo membuat mental penggawa Tim Garuda berubah drastis. Kepiawaianmua dalam meracik taktik dan strategi sangat berpengaruh kepada hasil akhir pertandingan.

Di bawah kendali Sinyo, Indonesia nyaris melangkah ke putaran final Piala Dunia 1986. Di fase terakhir penyisihan zona Asia Tim Garuda, kalah dari Korea Selatan dengan skor 2-0 di Seoul dan 4-1 di Jakarta.

Sinyo sempat kembali ke klub yang membesarkannya Persija pada musim 1999. Sayang, kali ini ia kurang beruntung. Dirinya lengser setelah serangkaian hasil buruk Macan Kemayoran di pentas Liga Indonesia. Ia pun diganti oleh pelatih asal Bulgaria, Ivanko Kolev.

Menjelang akhir hayatnya, Sinyo masih bersentuhan dengan sepak bola dan Persija. Ia dengan tekun melatih PS Setia, yang merupakan klub Internal Persija. Sang legenda tutup usia pada Rabu 18 November 2015.

Soetjipto Soentoro

Nama Soetjipto Soentoro selalu dikenang di dunia sepak bola Indonesia. Ia salah satu striker top pada masanya. Pria yang lahir di Bandung, Jawa Barat, 16 Juni 1941 ini besar di daerah Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Perkenalan Gareng (sapaan Soetjipto) dengan sepak bola terjadi saat ia memainkan si kulit bundar di pinggir jalanan Gandaria. Bakatnya alamnya tak sengaja ditemukan oleh klub internal Persija, PS Setia (yang memang bermarkas di daerah Gandaria), saat mereka bertanding melawan klub IPPI Kebayoran di Lapangan Blok A Kebayoran, Jakarta Selatan.

Di usia muda, Gareng sudah dikenal banyak orang. Terutama publik Stadion Persija di Menteng, yang rajin menonton aksi-aksi Gareng saat bermain bersama PS Setia.

Wuwungan, pelatih Persija di tahun 1956 melihat bakat besar Gareng langsung menariknya ke tim senior. Tentu saja, hal itu cukup mengejutkan, apalagi beberapa rekan seangkatan Gareang harus melewati seleksi di tim Persija U-18 sebelum melangkah ke tim utama.

Di tim senior Persija kala itu, Gareng sempat bermain dengan kakaknya, yakni Soegito yang juga berasal dari klub PS Setia.

Gareng mungkin masih sangat muda, 16 tahun, saat berkostum Persija, tapi di usianya itu ia langsung dipercaya sebagai pemain yang cukup vita di Macan Kemayoran. Ia bermain bersama pemain-pemain senior Persija yang sebagian menjadi anggota tim juara tahun 1954 seperti R. Parengkuan, Wim Pie, Chris Ong, Giok Po dan juga Tan Liong Houw.

Seiring prestasi Persija yang mulai surut di era 1950-an akhir, pengurus inti Persija mulai berfikir untuk melangsungkan regenerasi. Perlahan-lahan mereka memasukan pemain muda dari U-18 Persija, seperti Kwee Tek Liong atau Nunung.

Setelah Wuwungan lengser dari jabatan pelatih, Tim Macan Kemayoran mulai membangun tim muda di bawah kendali drg. Endang Witarsa (Liem Soen Joe). Di tangan Pak Dokter, Persija kembali menjelma menjadi tim yang ditakuti lawan.

Dokter yang maniak dengan pola 4-2-4 menjadikan Gareng sebagai penyerang bayangan yang bertugas menggedor pertahanan lawan dari lini kedua. Dirinya menjadi andalan dalam urusan menjebol gawang musuh.

Bersama Tahir Yusuf dan Sinyo Aliandoe, Gareng juga sering dirotasi bermain di sektor gelandang. Ketika menyerang, Gareng biasanya berkolaborasi dengan Didik Kasmara dan Dominggus.

Hasilnya, di kompetisi Perserikatan tahun 1964, Persija berhasil keluar sebagai juara tanpa satu pun menderita kekalahan. Gelar tim asal ibu kota itu terasa sangat lengkap karena Gareng jadi pencetak gol terbanyak. Ia menggelontorkan 16 gol selama kompetisi berlangsung.

Prestasi Gareng di Timnas Indonesia pun tak kalah mentereng. Jika di Persija ia hanya merasakan satu gelar, di timnas Gareng merasakan beberapa kali juara.

Pada tahun 1966 bersama timnas ia sukses menjuarai Piala Aga Khan di India. Karena tampil bagus di Aga Khan, Gareng diangkat menjadi kapten oleh Endang Witarsa, yang naik kelas jadi nakhoda Timnas Indonesia. Soetjipto Soentoro pun jadi pahlawan di Piala Raja Thailand tahun 1968. Ia mencetak gol tunggal ke gawang Myanmar.

Gareng sempat pindah ke PSMS Medan pada kompetisi 1968-1969. Ia bersama pemain Persija lainnya, yakni Yudo Hadiyanto dan Iswadi Idris, menyeberang ke Ayam Kinantan melalui klub Pardedetex. Saat ia dan kedua rekannya hijrah ke PSMS, beberapa media di Jakarta sempat menyebutnya kacang lupa kulit.

Namun, tak bertahan lama ia beserta Yudo dan Iswadi kembali ke Persija pada Peserikatan edisi tahun 1971. Di tahun itulah, Gareng memutuskan untuk pensiun dari sepak bola. Ia mengakhiri karier sepak bolanya di tim yang membesarkan namanya.

Tapi sayang, Gareng gagal mempersembahkan gelar juara di tahun terakhirnya bersama Persija. Macan Kemayoran harus puas melihat PSMS berpesta di Stadion Utama Senayan.

Iswadi Idris

Bakat sepak bola anak-anak Jakarta di era 1960 hingga 1970-an berlimpah ruah. Persija Jakarta tidak pernah kekurangan stok pemain berkualitas hasil cetakan klub-klub internalnya.

Gandaria, Kebayoran Baru, menelurkan Soetijpto Soentoro. Daerah Tanah Abang menjadi tempat Djamiat Dalhar memulai karier di Persija. Lalu, kawasan Petak Sinkian dan Taman Sari sudah pasti diisi oleh anak-anak berbakat UMS dan Tunas Jaya.

Kawasan Kramat, Senen, Jakarta Pusat juga tak mau kalah dengan melahirkan Iswadi Idris untuk Persija. Lahir di Banda Aceh, 18 Maret 1948, Iswadi malah tumbuh besar di Jakarta, tepatnya di Kramat Lima.

Sejak kecil, Iswadi memang menyukai sepak bola. Untuk menyalurkan bakatnya ia bergabung dengan Merdeka Boys Football Association (MBFA) di Lapangan Banteng, Jakarta.

MBFA yang masih klub internal Persija, menjadi wadah Iswadi belajar mengolah bola. Setelah melihat Indonesia Muda (IM) latihan di lapangan kosong di daerah Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Iswadi pun pindah ke klub legendaris. Alasannya sepele karena lokasi latihan lebih dekat dengan rumahnya.

Iswadi secara resmi masuk tim utama Persija pada tahun 1966 setelah tampil mengkilap bersama IM. Karena dasarnya berbakat, tak butuh waktu lama bagi Iswadi untuk bisa menembus posisi inti. Boncel (sapaan Iswadi) juga cepat mentas ke Timnas Indonesia.

Di skuat Garuda, banyak gelar yang ia persembahkan. Sebut saja Merdeka Games 1969, Piala Anniversary 1972, dan Pesta Sukan (1972). Sedangkan bersama Persija, prestasi Iswadi juga menawan.

Tahun 1973, Iswadi turut mengantarkan Persija menjadi juara kompetisi Perserikatan PSSI. Performanya yang apik saat menjalani tur Australia bersama Persija, membuat klub Australia, Western Suburbs tertarik.

Ia pun berpisah sementara dengan Persija. Karena begitu bekennya nama Iswadi, sebuah laga seremoni perpisahan yang dilangsungkan di Stadion Menteng. Indonesia Muda sebagai klub amatir Iswadi bertanding dengan Persija.

Sepulang dari Australian, Iswadi hijrah ke klub elite anggota Persija yang bermain di pentas Galatama, yakni Jayakarta. Tahun 1975, Iswadi mempersembahkan gelar juara kedelapan buat Macan Kemayoran. Sayangnya Iswadi tak mampu mempertahankan gelar juara untuk Persija di tahun 1977.

Tahun 1978 merupakan tahun terakhir Iswadi membela Persija. Dalam kompetisi PSSI 1978-1979, nama Iswadi sempat dibawa oleh pelatih Marek Janota. Namun sikapnya yang keras dan komunikasi yang buruk dengan sang pelatih, membuat dirinya dicoret dari Tim Kemayoran. Iswadi secara resmi pensiun dari klub yang membesarkannya pada tahun 1980.

Bambang Pamungkas

Bambang Pamungkas adalah legenda Persija di masa modern. Penyerang kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 10 Juni 1980 ini pernah mengantarkan Macan Kemayoran menjadi juara Liga Indonesia edisi 2001. Pencapaian yang belum bisa kembali diulang hingga era Indonesia Super League saat ini.

Bambang mengawali karier junior di tim Persikas Kabupaten Semarang. Ia kemudian lolos seleksi di Diklat Salatiga. Di diklat ini nama Bepe mulai bersinar.

Pada tahun 1999, ia masuk skuat Timnas Indonesia U-19 asuhan Bernard Schum untuk ajang Pra Olimpiade, Atena 2000.

Lepas dari membela Timnas, Bambang Pamungkas langsung didekati Persija. Manajer Tim Merah-Putih, IGK Manila, yang ditunjuk sebagai Chief de Mission Persija, melakukan lobi hati ke hati ke penyerang dengan ciri khas nomor punggung 20 itu.

Bepe bergabung ke Persija pada tahun 1999, setelah lulus dari Diklat Salatiga. Di musim pertamanya, BP menggila dengan menggelontorkan banyak gol untuk Persija. Total di musim 1999 dan 2000, Cah Getas mengemas 24 gol.

Tampil bagus bersama Persija di pertengahan tahun 2000, Bepe mencoba peruntungannya di klub Belanda, EHC Norad. Ia bertualang ke Negeri Kincir Angin selama setengah tahun.

Keunggulan Bepe sebagai penyerang adalah ia amat kuat dalam duel bola-bola udara. Selain itu, ia punya kedua kaki yang sama bagus untuk melakukan shooting. Bambang pemain yang cerdas dalam penempatan posisi.

Setelah berkiprah di EHC Norad, Bepe pulang ke Persija. Berguru di tanah Total Football, ia diharapkan bisa membawa Persija menjadi juara Liga Indonesia yang kala itu disponsori Bank Mandiri.

Di bawah asuhan Ivanko Kolev, Persija tampil menawan di babak reguler. Sayang begitu masuk babak 8 besar anak-anak Macan Kemayoran melempem.

Belajar dari kegagalan pada musim 2001, Persija pun berbenah. Dengan sokongan dana berlimpah dari Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso (yang berstatus sebagai Pembina Persija), Tim Macan Kemayoran membangun The Dream Team di bawah komando pelatih lokal, Sofyan Hadi.

Bambang Pamungkas tampil on-fire di musim 2001. Ia bermain seperti titisan Soetjipto Soentoro, striker legendaris Persija yang amat haus gol.

Selain membawa Persija juara dengan mengalahkan PSM Makassar 3-2 dalam laga puncak yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Bepe juga menjadi Pemain Terbaik kompetisi. Selain itu ia juga unjuk produktivitas dengan torehan 24 gol.

Sayangnya sinar kebintangan Bambang Pamungkas tak menular ke Timnas Indonesia. Jadi pelanggan tetap lini depan Tim Merah-Putih selama 12 tahun, ia tak mempersembahkan prestasi apa-apa.

Meski demikian, ia menjadi pemain dengan koleksi jam terbang terbanyak di Timnas Indonesia, yakni 85 pertandingan dengan sumbangsih 37 gol. Bepe menepi dari timnas seusai tampil di Piala AFF 2012. Ia memilih fokus membela klub yang dicintainya.

Sebuah keputusan kontroversial dibuat penyerang kelahiran 10 Juni 1980 pada musim 2014. Ia memutuskan pindah ke Pelita Bandung Raya, setelah semusim sebelumnya memilih menganggur. Ia menolak tawaran kontrak manajemen Persija, karena kasus tunggakan gaji ke pemain.

Pada musim 2015 lalu, bomber pengidola klub Italia, Internazionale Milan, kembali ke Persija Jakarta. Sayangnya kompetisi Indonesia Super League berhenti mendadak imbas konflik PSSI dengan Kemenpora.

Ia sempat tampil membela Persija di turnamen Piala Presiden 2015. Setelah itu ia memutuskan menepi dari lapangan hijau, menunggu konflik mereda. The Jakmania, kelompok pendukung Persija, berharap Bambang Pamungkas kembali membela Persija di kompetisi Indonesia Soccer Championship 2016. Sang pemain yang juga jadi Wakil Presiden Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) belum memberi keputusan.

Sumber : bola.com

Spread the love

Leave a Reply