Mengenang Kembali: Ketika Zenit Datang ke Indonesia Untuk Persija Pada Tahun 1959

Meski tak banyak diceritakan kembali, ternyata klub Rusia, Zenit St. Petersburg pernah datang ke Indonesia pada akhir tahun 1959 lalu. Bagaimana kisahnya?

By Gerry Putra

Kedatangan Zenit memang atas inisiatif Persija yang tak ikut bertanding melawan klub asal Swedia, Djurgarden. Saat itu, PSSI yang mengundang Djurgaerden ke Indonesia memang tak menyertakan Persija dalam rancangan jadwal uji coba klub Swedia itu selama di nusantara.

Sepak bola Indonesia sempat dikejutkan dengan kedatangan klub Rusia, Zenit Leningrad (sekarang Zenit St. Petersburg) pada tahun 1959. Kedatangan Zenit pun dikabarkan dengan gencar oleh beberapa media nasional saat itu. Menariknya, kedatangan Zenit ke Indonesia ternyata untuk memenuhi undangan Persija Jakarta yang ingin berlatih tanding di ibu kota.

Kedatangan Zenit memang atas inisiatif Persija yang tak ikut bertanding melawan klub asal Swedia, Djurgarden. Saat itu, PSSI yang mengundang Djurgaerden ke Indonesia memang tak menyertakan Persija dalam rancangan jadwal uji coba klub Swedia itu selama di nusantara. PSSI memilih memprioritaskan klub lain untuk bertanding melawan Djurgarden.

Tak mendapat kesempatan dari PSSI, Persija malah mengundang Zenit ke Jakarta. Klub asal Rusia itu kemudian merespons keinginan Persija untuk berlatih tanding di Indonesia. Zenit pun  menjadi klub ketiga Rusia yang datang ke Indonesia setelah Lokomotiv Moskwa dan Spartak Moskwa.

Selama di Indonesia, Zenit tidak hanya bertanding melawan Persija saja. Pengurus Persija juga memberikan kesempatan kepada tim lainnya untuk bisa menjajal kekuatan klub dari Rusia itu.

Berdasarkan catatan sejarawan Persija, Abdillah Afiif, Zeniht datang ke Jakarta pada tanggal 20 Desember 1959. Dalam tur kali ini, Zenit membawa 20 pemain terbaiknya. Berikut nama-nama pemain Zenit yang datang ke Indonesia.

  1. P. Asin – Kiper
  2. A. Kawazasjwili – Kiper
  3. V. Mestjtjerjakov – Bek
  4. Vasilevsky – Bek
  5. L. Sjisjkov – Bek
  6. P. Soweiko – Bek (Kapten)
  7. M Gek – Bek
  8. A. Stepanov – Bek
  9. A. Dergatjev – Gelandang
  10. S. Zavidonov – Gelandang
  11. V. Pikaikin – Gelandang
  12. V. Chrapowitski – Penyerang
  13. V. Aksenov – Penyerang
  14. L. Burtjaklin – Penyerang
  15. N. Rjazanov – Penyerang
  16. G. Bondarenko – Penyerang
  17. A. Iwanov – Penyerang
  18. N. Jegorov – Penyerang
  19. N. Jegorov – Penyerang
  20. A. Kurchaenkov – Penyerang
  21. V. Agreewets – Pemimpin Rombongan
  22. G. Zarkov – Pelatih Senior
  23. N. Gartwig – Pelatih

Masih dalam catatan Abdillah Afiif, Zenit datang dengan perpaduan pemain senior dan junior. 10 pemain yang datang ke Indonesia tercatat masih berusia 23 tahun. Menariknya, ada nama Zavidonov dan Dertgatjev yang merupakan anggota timnas Uni Soviet untuk Olimpiade.

Taktik poros Jakarta dan Leningrad dan pemain berstatus pelajar

Pertandingan melawan Persija sendiri merupakan laga keempat Zenit di Indonesia. Sebelumnya Zenit sudah meladeni PSP Padang, PSMS Medan, dan KADI (Klub TNI Angkatan Darat).

Zenit datang dengan perpaduan pemain senior dan junior. 10 pemain yang datang ke Indonesia tercatat masih berusia 23 tahun. Menariknya, ada nama Zavidonov dan Dertgatjev yang merupakan anggota timnas Uni Soviet untuk Olimpiade.

Pertandingan melawan Persija merupakan pertandingan yang spesial, pasalnya Macan Kemayoran merupakan pihak promotor yang mendatangkan Zenit ke Indonesia. Zenit pun sudah berniat mengeluarkan permainan terbaiknya melawan Persija.

Persija sedikit pincang jelang pertandingan melawan Zenit. Si Merah-Putih masih kehilangan bek Kwee Kiat Sek yang tak bisa tampil karena cedera. Pelatih Moerdono juga belum mampu menemukan komposisi yang pas untuk tim utama Persija.

Persija pada era itu sedang dalam transisi dari mengandalkan pemain-pemain senior menjadi tim yang bertumpu pada pemain-pemain muda. Para pemain muda sudah mulai mengisi skuat Persija yang sebelumnya identik dengan nama-nama senior seperti Tan Liong Houw, Chris Ong, Van der Vin, atau Thio Him Tjiang. Nama terakhir adalah andalan Persija yang hengkang bersama dengan Fattah Hidayat ke Persib Bandung.

Hari pertandingan pun tiba. Tanggal 31 Desember 1959 menjadi tanggal bersejarah di mana laga antara Persija melawan Zenit dilangsungkan. Laga digelar di kandang Persija ketika itu, Stadion IKADA. Wasit Tarumaselly yang merupakan wasit terbaik pada masanya pun memimpin laga tersebut.

Berikut susunan starter dan formasi kedua tim dalam laga tersebut:

Persija (2-1-2-5): Paidjo; Albert Tan, Bob Amunupunjo; Santja; Tan Liong Houw (C), Achmad Noor; Djamhur, Bob Hippy, Dirhamsjah, Siang Soey, Alamsjah

Zenit Leningrad (2-3-5): Kawazasjwi: Mestjtjerjakov, Vasilevsky; Dergatjev, Soweiko (C), Zavidonov; Burtjaklin, Aksenov, Morozov, Bondarenko, Kurchaenkov.

Dalam laga tersebut, Moerdono masih memercayakan Paidjo sebagai benteng terakhir Persija. Sang Macan Betawi alias Tan Liong Houw juga masih mengawal lini tengah Persija. Dirinya berduet dengan Achmad Noor sebagai pengawal lini tengah Macan Kemayoran hari itu.

Ada tiga pemain muda yang diturunkan Moerdono pada pertandingan kali ini. Dirhamsjah, Tjoa Siang Soey, dan Bob Hippy masih berstatus sebagai pelajar. Ketiganya langsung dipercaya sebagai penyerang Persija. Mereka ditopang oleh dua sayap Alamsjah dan Djamhur Toha.

Zenit perkasa di IKADA

Persija Jakarta memang hanya mencari pengalaman melawan Zenit. Dengan postur pemain yang tinggi, sudah pasti membuat para pemain Persija harus cerdik bermain bola bawah dan seminim mungkin memainkan bola atas.

Meski unggul secara fisik, Zenit tak serta merta mengeksploitasinya dengan bermain bola-bola atas. Mereka memilih bermain dengan bola-bola bawah. Zenit pun dilaporkan memainkan permainan teknik yang cukup baik dibanding Persija. Bahkan para penyerang Persija juga kesulitan menembus pertahanan Zenit yang memeragakan pertahanan bak benteng Rusia.

Zenit unggul di babak pertama melalui sepaakn Zavidonov. Tendangan kerasnya tak bisa ditahan oleh kiper Paidjo. Tendangan menukik (seperti dilansir dari Catatan Afiif: Rocket to Rusia) mengagetkan Paidjo yang mengira bola bakal keluar daerah permainan.

Pada babak kedua, Persija bermain menyerang. Tapi ini justru menjadi sebuah blunder yang dilakukan oleh anak-anak asuh Moerdono. Zenit justru menjadi lebih leluasa menyerang dan mencuri gol dari tuan rumah. Kali ini Kurchaenkov yang membobol gawang Persija sekaligus memperbesar kedudukan menjadi 2-0. Gol kedua itu membuat para pemain Persija kewalahan untuk mengawal apalagi menghancurkan permainan Zenit. Lagi-lagi Kurchaenkov membobol gawang Paijdo sekaligus mengubah skor menjadi 3-0.

Gol hiburan Persija datang dari titik putih setelah Zavidanov terlibat handsball di kotak penalti. Tan Liong Houw yang menjadi algojo tak menyia-nyiakan kesempatan dan sukses menipu kiper Zenit. 3-1 masih untuk keunggulan Zenit.

Gol Tan Liong Houw menjadi gol yang terakhir di laga tersebut. Meski kalah, Persija dinilai bisa mengimbangi permainan Zenit. Bahkan beberapa media cetak di Jakarta tak segan memuji permainan Persija yang berani menghadapi permainan teknik tinggi Zenit.

Sumber : fourfourtwo.com

Spread the love

Leave a Reply